Agustus Diprediksi Kelam, LIPI: Banyak Perusahaan Akan Tumbang

Spread the love

Jakarta – Dua sampai tiga bulan ke depan diprediksi akan menjadi masa-masa kelam bagi banyak dunia usaha. Ini adalah efek domino wabah virus corona jenis baru yang mendera seluruh dunia.

Selain pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dan kemiskinan baru yang akan melanda, banyak perusahaan juga diprediksi tumbang hingga dua bulan ke depan, atau sekitar Agustus dan September 2020.

Salah satunya, sebanyak 41 persen perusahaan tercatat hanya mampu bertahan dari krisis ekonomi akibat Covid-19 hingga Agustus nanti. Tanpa intervensi pemerintah, mimpi buruk dunia usaha bisa jadi kenyataan.


Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI ) bersama Badan Litbang Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia telah melakukan survei daring. Survei dilakukan untuk meng-capture dampak pandemi terhadap pelaku bisnis dan pekerja.

Survei dilakukan selama periode 24 April sampai 2 Mei 2020 terhadap penduduk usia 15 tahun keatas, dengan jumlah responden yang terjaring sebanyak 2.160 responden yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

LIPI melihat, pandemi Covid-19 menyebabkan terhentinya kegiatan usaha dan rendahnya kemampuan bertahan pengusaha. Hasil survei mencatat 39,4 persen usaha terhenti dan 57,1 persen usaha mengalami penurunan produksi.

“Hanya 3,5 persen yang tidak terdampak,” jelas Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Ngadi dalam keterangan medianya, Kamis (21/5).

Dia menjelaskan, kemampuan bertahan oleh di kalangan dunia usaha mengalami keterbatasan. Sebanyak 41 persen pengusaha hanya dapat bertahan kurang dari tiga bulan.

“Artinya pada bulan Agustus usaha mereka akan terhenti,” imbuh dia.

Kemudian, sebanyak 24 persen pengusaha mampu bertahan selama 3 sampai 6 bulan, 11 pesen mampu bertahan selama 6-12 bulan ke depan, dan 24 persen mampu bertahan lebih dari 12 bulan.

Sementara dampak Covid-19 pada usaha mandiri membuat usaha menjadi terhenti dan sebagian mengalami penurunan produksi. Sebanyak 40 persen usaha mandiri terhenti kegiatan usahanya, dan 52 persen mengalami penurunan kegiatan produksi.

“Hal ini berdampak 35 persen usaha mandiri tanpa pendapatan dan 28 persen pendapatan menurun hingga 50 persen,” paparnya. (Aza)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *