Soal 70.000 Ton Gula Hilang, Kemendag: Aperindo yang Tidak Mampu Menyerap

0
(0)

Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) memberikan klarifikasi terhadap pernyataan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) terkait hilangnya stok gula rafinasi sebesar 70.000 ton. Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Suhanto, Aperindo tidak mampu menyerap semua gula rafinasi dalam bulan Mei, sesuai yang diputuskan dalam rapat.

Suhanto mengutaraan, bahwa gula rafinasi itu bukan menghilang, namun Aprindo yang tidak mampu menyerap semuanya. “Jadi penegasannya bukan menghilang, karena Aperindo yang tidak mampu menyerap semua dalam bulan Mei sesuai yang diputuskan dalam rapat,” paparnya.

Ia menjelaskan, hasil rapat menteri perdagangan dengan stakeholder pergulaan, termasuk produsen yang mendapatkan penugasan, Aprindo, distributor, serta instansi terkait lain. Salah satunya memutuskan pendistribusian sisa gula konsumsi hasil pengolahan produsen rafinasi akan dilakukan melalui ritel modern di bawah Aprindo.

Pada rapat tersebut memang disampaikan oleh Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), bahwa stok yang tersedia sekitar 160.000 ton. Namun demikian, pada pelaksanaannya, lanjutnya, Kemendag melakukan evaluasi salah satunya terhadap kemampuan menyerap gula oleh ritel modern dalam waktu cepat.

“Dari hasil evaluasi kami, diperoleh informasi bahwa bahwa ritel modern hanya dapat menyerap gula sekitar 30.000 ton untuk kebutuhan bulan Mei. Hal ini dikarenakan keterbatasan repacker atau distributor yang memasok ke ritel-ritel modern,” ujar Suhanto kepada Indonesiainside.id, Ahad (17/5).



Pemerintah berpandangan gula harus segera didistribusikan kepada konsumen. Maka diputuskan gula tidak hanya disalurkan kepada ritel modern, namun bekerja sama dengan pedagang pasar melalui jaringannya untuk mendistribusikan gula sesuai harga eceran tertinggi (HET).

“Kemudian kami meminta Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) bekerja sama dengan para pengelola dan dinas-dinas seluruh Indonesia melakukan operasi pasar. Dalam pelaksanannya tim Kemendag dan satgas pangan terlibat langsung untuk melakukan pengawalan terhadap pendistribusian gula,” ujar dia.

Sebelumnya Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengungkapkan, industri ritel mendapatkan alokasi gula rafinasi sebesar 160.000 ton. Namun dalam dua hari stok gula itu hilang 70.000 ton, sehingga tersisanya hanya 93.000 ton.

“Pada 22 April 2020 Menteri Perdagangan mengumpulkan Aprindo dan Asosiasi Gula Rafinasi menanyakan sisa stok gula itu, sementara kami kesulitan mendapatkan gula akhirnya kami medapatkan kelebihan alokasi gula rafinasi tersebut yang layak menjadi gula konsumsi,” ungkap dia.

Namun setelah dilakukan rapat internal tinggal 93.000 ton dalam waktu dua hari hilang sekitar 70.00 ton. “Dengan 93.000 ton kita mencoba melakukan kerjasama dan kenyataan itu tidak bisa diuplai seluruhnya, sehingga kita meminta 30.000 ton dalam satu bulan pelaksanaannya juga tidak bisa maksimal karena realisasinya hanya 20 hingga 25 persen dari total yang diharapkan,” jelas Roy

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *