Lambannya Pembangunan Depo Di Batam, Kuasa Hukum Sinomart : Bantah Menunda Proyek

Spread the love

Hariannasional.com , Jakarta – Masuknya investasi Rp11 triliun menjadi angin segar bagi investasi Batam,Provinsi Kepri.Pengelolaan depo minyak di Pulau Janda Berhias merupakan merupakan nilai investasi perusahaan terbesar saat ini bahkan dapat menyerap ribuan tenaga kerja lokal.

Investasi senilai Rp 11 triliun itu, dimiliki oleh dua pemilik saham. Selain Sinomart KTS Development Limited senilai 95 persen, kepemilikan saham sebesar lima persen diketahui milik PT Mas Capital Trust.

Dalam perjalanannya, kedua perusahaan terlibat perselisihan hukum. “Sampai ke arbitrase internasional. Dan dimenangkan oleh Sinomart KTS Development Limited.

“Kami sedang mengajukan permohonan penetapan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,” Ujar EL Sajogo kuasa hukum Sinomart KTS Development Limited saat memberikan keterangan pers di Jakarta, (9/3/2020).

Lebih lanjut dikatakan Sajogo semestinya perusahaan depo minyak itu sudah berjalan 2016 lalu. Hanya saja, terjadi perselisihan antara Sinomart KTS Development Limited dan PT Mas Capital Trust.

Menurutnya Ia sangat prihatin dengan kondisi ini. Sebab kata dia, peluang investasi ini jadi terhambat.

Bahkan Kuasa hukum dari Sinomart KTS Development Limited menegaskan itikad baiknya untuk berinvestasi di Indonesia dengan tetap mengandalkan keadilan dan dukungan dari Pemerintah.

Sebagaimana diberitakan akhir-akhir ini bahwa kliennya Sinopec atau Sinomart di duga “Menunda-nunda” proyek kendati sudah mengantongi izin dari otoritas pemerintah daerah maupun pusat.

“Kami meminta kepada PT Batam Sentralindo dan PT Mas Cpital Trust untuk melaksanakan putusan arbitrase internasional. Serta perlakuan yang adil berdasarkan hukum bagi investor yang beritikad baik untuk melanjutkan proyek mereka di Indonesia,” ujar EL Sajogo.

Perlu di ketahui, lanjut Proyek depo minyak atau storage oil tersebut menampung 2,6 juta meter kubik dengan total investasi mencapai USD 841 juta atau setara 12 triliun rupiah. Dimana PT Mas Capital Trust adalah pemegang saham minoritas dengan kepemilikan saham 5 persen di PT West Point Terminal dan sisanya 95 persen dikuasai Sinomart.

“Investasi awal yang telah dikucurkan oleh Sinomart melalui PT West Point Terminal adalah menyewa lahan yang dikuasai PT Batam Sentralindo dengan nilai kurang lebih Rp 1 triliun untuk jangka waktu 50 tahun dan di bayar dimuka”,katanya.

Namun demikian,ungkapnya, Sinomart yang memiliki saham mayoritas ternyata mendapat berbagai macam halangan untuk berinvestasi dan melakukan pembangunan proyek di Indonesia.

“Halangan-halangan tersebut ironinya justru dilakukan oleh para mitra bisnisnya di Indonesia yang sebenarnya sudah menerima pembayaran di muka tersebut,” ungkapnya.

“Akibatnya sejak awal investasi, PT West Point Terminal tidak bisa menjalankan investasinya dengan bebas. Bahkan sejak 2015 hingga saat klarifikasi disampaikan Sinomart dan PT West Point Terminal maupun pengurus dan pemegang sahamnya masih harus menghadapi berbagai macam upaya hukum oleh PT Mas Capital Trust dan PT Batam Sentralindo,” sebutnya.

Dikesempatan yang sama, tim kuasa hukum Sinomart, Johson Panjaitan menyampaikan harusnya mereka mematuhi putusan arbitrase internasional di Singapura bahwa dalam putusan tersebut sudah jelas bahwa tidak boleh adalagi gugatan-gugatan.(sl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *