Friday, June 18

Kini Mutasi Virus Baru Berpotensi Menular Lebih Cepat

Site Logo

Site Logo
HOME
NASIONAL
INTERNASIONAL
DAERAH
EKONOMI
OLAHRAGA
TEKNOLOGI
HIBURAN
HUMANIORA
TANGGAP BENCANA
EDITORIAL
BERITA FOTO
PODCAST
VIDEO JURNALIS
INFOGRAFIS
INDEKS
Mutasi Virus Baru Berpotensi Menular Lebih Cepat
Bagikan :
Oleh: Saviera Amalia Editor: Zein 06 Peb 2021 07:10
KBRN, Jakarta: Beberapa negara kembali melaporkan munculnya varian baru virus COVID-19.

Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, dr. Syahrizal Syarif menyatakan, mutasi merupakan kemampuan virus untuk bertahan hidup yang umumnya terjadi tidak pada bagian penting dari virus.

“Kemampuan kita untuk memeriksa terjadinya berbagai skuensial genetik dari virus yang beredar di Indonesia masih terbatas. Kalau Inggris sudah melaporkan puluhan ribu varian ke bank genom. Indonesia melalui Lembaga Molekuler Eijkman baru melaporkan kurang dari 150-an varian virus COVID-19, karena pemeriksaan ini membutuhkan biaya yang mahal,” kata Syahrizal dalam keterangan tertulis KPCPEN, Jumat (5/2/2021).

Syahrizal mengatakan, mutasi virus COVID-19 selama ini umumnya tidak terjadi pada bagian yang penting, namun mutasi yg terjadi pada bagian tanduk – spike dari virus, menimbulkan kekhawatiran- karena virus akan lebih mudah untuk masuk ke sel sasaran sehingga penularannya akan lebih cepat dibanding dengan varian yang lama.

“Hingga hari ini WHO belum mendapat laporan bukti bahwa varian mutasi virus COVID-19 yang baru ini lebih tinggi tingkat keganasannya. Para ahli juga terus meneliti dampak varian baru ini terhadap tingkat perlindungan vaksin,” ujarnya.

Syahrizal menegaskan bahwa tidak perlu khawatir berlebihan terhadap munculnya varian baru yang pada dasarnya mutasi dapat terjadi di negara manapun.

“Perlu didukung upaya pemerintah untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan sekuensial genetik terhadap virus yang beredar di dalam negeri,” tegasnya.

“Vaksinasi sama sekali tidak memunculkan varian virus baru, bahan-bahan pembuat vaksin tidak mendorong munculnya mutase,” tambahnya Syahrizal.

Menurut Syahrizal saat ini yang mesti dilakukan oleh pemerintah adalah menurunkan angka kematian, menurunkan beban pelayanan dan biaya pelayanan kesehatan, yaitu dengan cara yang tepat dalam strategi vaksinasi. Upaya mencapai herd immunity baru akan tercapai tahun 2022. Sehingga ketersediaan vaksin untuk kelompok lansia dan komorbid perlu dipercepat.

“Saatnya Pemerintah untuk membuka diri dan mempertimbangkan bukti- bukti ilmiah di China, Brazil dan Turki bahwa Sinovac aman untuk kelompok Lansia. Jika tetap menunggu vaksin Pfizer misalnya- terjadi penundaan yg merugikan dari aspek Cost- effectiveness program,” tutupnya.

Seperti diketahui, setelah Inggris melaporkan adanya temuan mutasi dari virus COVID-19 pada akhir tahun lalu, disusul Afrika Selatan dan Brazil juga melaporkan temuan mutasi virus ini. (ccp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *