Kisah Supir Bus Sekolah Pengantar Pasien Covid-19: Panas, Lapar, Haus hingga Pingsan

5
(1)

Pengemudi bus sekolah bertugas mengantar pasien Covid-19 tanpa gejala ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Jakarta
Sebelum pandemi, Anto —sapaan akrabnya— bertugas mengantar jemput siswa dari rumah-rumah mereka menuju sekolah. Anto kini harus berhadapan langsung dengan pasien yang terjangkit sejak sejumlah bus sekolah dikerahkan untuk mengevakuasi pasien Covid-19 karena jumlah ambulans terbatas.

Bus-bus itu dipasangi sekat pembatas antara area sopir dengan area penumpang dan Anto pun wajib menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Usia muda, kondisi fisik yang sehat, dan tidak memiliki penyakit bawaan membuat Anto dipercaya dalam tugas kemanusiaan ini.

Dia memulai hari pukul 4 pagi setiap kali bertugas, kemudian bersiaga menanti panggilan evakuasi tanpa tahu pasti waktu kerjanya berakhir pukul berapa.

“Tim evakuasi Covid-19 ini enggak mengenal waktu, 24 jam standby terus dan kalau ditelepon harus siap evakuasi,” kata Anto kepada Anadolu Agency, Senin.

“Saya berdua dengan teman saya pernah jemput pasien sampai jam 3 dini hari,” lanjut dia.

Menurut Anto, dia bisa mendatangi tiga lokasi dan mengantarkan puluhan hingga lebih dari 100 pasien Covid-19 ke rumah sakit darurat dalam sehari.

Jakarta merupakan wilayah paling terdampak Covid-19 di Indonesia dengan 12.202 kasus aktif pada Senin. Kasus Covid-19 di Jakarta bertambah lebih dari 1.000 orang setiap hari, dengan lebih dari 50 persennya merupakan pasien tanpa gejala.

Pasien-pasien tanpa gejala itulah yang menjadi penumpang Anto untuk dievakuasi ke Wisma Atlet dan menjalani isolasi mandiri. “Rata-rata mereka enggak kelihatan sakit, pada segar dan bugar. Ada anak-anak bawa mainan, ibu hamil, sampai tuna rungu saya pernah antar,” tutur Anto.

“Ada juga yang anaknya positif, masih kecil usia 8 tahun lalu ibunya yang sebetulnya enggak positif terpaksa ikut ke Wisma Atlet,” kata dia.

Menahan Panas, Lapar, dan Haus

Bagi Anto, bagian paling menantang dari tugas ini adalah dia harus menyetir menggunakan alat pelindung lengkap seperti baju hazmat, masker, sarung tangan, serta kaca mata Google. “Teman saya pernah sampai pingsan karena dehidrasi,” tutur Anto.

“Karena kalau sudah pakai APD, lapar dan haus pun harus ditahan. Belum lagi panas karena di dalam bus AC enggak boleh nyala,” lanjut dia.

Dia harus melakukan prosedur disinfeksi dan mandi hingga lebih dari tiga kali sehari setiap selesai mengantarkan pasien.

Anto juga harus menjalani tes usap rutin dan karantina mandiri selama 2 hingga 3 hari di mes milik instansinya setelah bertugas.

Dia hanya pulang sekali tiga hari, itu pun dengan perasaan khawatir terhadap risiko yang mungkin menimpa istri, dua anak, dan satu bayinya yang berusia 7 bulan.

“Setiap saya sampai rumah anak-anak harus masuk dulu ke dalam kamar, saya mandi, terus tempat yang saya lewati selalu saya pel,” tutur dia.

Anto bahkan menunggu beberapa jam sebelum akhirnya berani memeluk atau mencium anak-anaknya sendiri. “Kalau mau cium anak saya selalu kumur-kumur dulu,” kata dia.

Seperti banyak orang, Anto berharap agar pandemi Covid-19 segera terkendali dan hari-hari melelahkan ini segera berakhir.

“Covid-19 ini benar ada, benar-benar terjadi. Mudah-mudahan mereka yang di luar sana bisa selalu patuh protokol kesehatan supaya Jakarta bisa membaik,” tutur dia. (rdk/Indonesiainside.id)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Banyak Pegawai KPK Mundur Didorong Situasi Politik dan Hukum yang Berubah

Sat Sep 26 , 2020
5 (1) Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat sebanyak 157 pegawainya telah mengundurkan diri selama periode 2016 sampai September 2020. “Tercatat setidaknya pada periode 2016-2020 data pengunduran diri sebagai berikut. Tahun 2016 sebanyak 46 terdiri dari pegawai tetap 16 dan pegawai tidak tetap 30, tahun 2017 sebanyak 26 terdiri […]